Kongregasi Pasionis
Kongregasi Pasionis
Kongregasi Pasionis atau Kongregasi Sengsara Yesus Kristus, didirikan oleh St. Paulus
dari Salib pada 1720 di Gunung Argentario, Italia Utara.
Kongregasi ini diizinkan pendiriannya oleh Paus Benediktus XIV tahun 1725,
bertepatan dengan moment disahkannya Regula Kongregasi Pasionis.
Paulus Danei yang kemudian mengganti namanya jadi Paulus dari Salib dan
saudaranya Yohanes Baptista, ditahbiskan jadi imam oleh Paus pada saat yang sama.
Nama kanonik konggregasi ini adalah Konggregasi Para Biarawan Tak Bersepatu dari
Salib dan Sengsara Tersuci Tuhan Kita Yesus Kristus. Konggregasi ini hadir dengan
misi: Merenungkan dan Mewartakan Sengsara Yesus Kristus adalah tanda karya
penebusan Allah atas umat manusia (Bdk. 1 Ptr 2:24). Maka KITA tidak boleh sampai
melupakan sengsara, wafat, dan kebangkitan Tuhan kita Yesus Kristus (Bdk. Kis 4:12).
Sengsara Yesus Kristus adalah OBAT MUJARAB untuk melawan dosa. Oleh karena itu
segenap kaum beriman haruslah tekun: merenungkan, memahami, dan akhirnya
mewartakan betapa dahsyat dan mulianya misteri Paskah Kristus (Bdk. Yoh 6:38-40).
Maksud dari semua itu supaya janganlah dosa berkuasa lagi di dalam tubuh kita, yang
telah dimenangkan oleh misteri Paskah Kristus (1 Ptr 2:24; bdk. Roma 6:12-18).
Kemudian tahun 1769, Paus Klemens XIV memberikan hak penuh kepada para
Pasionis sebagaimana yang diterima oleh tarekat religius lainnya, bukan dalam bentuk
Ordo tetapi sebagai KONGREGASI. Kongregasi ini didirikan dengan dua tujuan khusus:
karya misi dan hidup kontemplatif, dengan usaha menyatukannya dalam hidup
keseharian. Santo Paulus dari Salib, telah memadukan dua aspek hidup religius, yaitu
aspek kontemplatif seperti para biarawan Trapis, dan aspek aktif seperti para Yesuit
yang merasul di tengah umat dan masyarakat luas.
Dewasa ini ada sekitar 2000an anggota Pasionis yang berkarya di 59 negara di lima
benua. Kongregasi Pasionis, dipimpin oleh Superior Jenderal yang dipilih setiap empat
tahun sekali dalam Kapitel Jenderal. Adapun Superior Jenderal didampingi oleh para
Konsultor Jenderal dalam pelaksanaan tugasnya memimpin Kongregasi Pasionis di
seluruh dunia. Superior Jenderal tinggal di Pusat Pasionis, yaitu Biara St. Yohanes dan
Paulus di Roma, Italia; tidak jauh dari Koloseum.
Kongregasi Pasionis hadir di Negara Kesatuan Republik Indonesia pada tahun 1946.
Kehadiran Pasionis di Indonesia, tepatnya di KETAPANG Kalimantan Barat,
tidak terlepas dari komunikasi dan relasi baik anatara Uskup di Pontianak serta
komunitas OFM Capusin Pontianak dengan para Pasionis Provinsi SPEI Belanda.
Hubungan baik itu berbuah manis, Jendral Pasionis merestui para Pasionis dari Provinsi
Spei Belanda utk datang dan berkarya di wilayah Ketapang. Karya baik tersebut
tersendat akibat peristiwa Irian Barat, maka para Pasionis asal Belanda dipulangkan.
Setelah siatuasi irian barat berangsur damai, Pasionis asal Provinsi Spei Belanda pun
datang kembali dan berkarya.
Tahun 1961 Jendral dan Dewan Konsultor Pasionis memutuskan mengutus para
Pasionis dari Provinsi Pieta, Italia. Para Pasionis datang dalam beberapa gelombang
dan memfokuskan karya pelayanan di SEKADAU wilayah Sanggau, Kalbar. Karya
kerasulan dan juga kontemplatif, sungguh dihidupi oleh para Pasionis (imam dan
Bruder). Demi kelanjutan karya Pasionis dimasa selanjutnya, para Pasionis mendirikan
ASRAMA bagi anak-anak putera. Mereka diberi pembinaan dalam pelbagai ilmu dan
ketrampilan. Buahnya pun berhasil manis seperti ada yang melanjutkan studi menjadi
imam, bruder, pun rasul awam di wilayah Sanggau khususnya dan Kalimantan Barat
pada umumnya.
Tahun 1978 para Pasionis memutuskan membangun rumah novisiat di BATU, Malang.
Dengan tempat yg indah dan khusus para kaum muda dibina dan dituntun untuk
sungguh siap menjadi anggota Kongregasi Pasionis. Dan selanjutnya mendirikan
rumah Frateran di MALANG bagi para calon imam Kongregasi Pasionis yang menjalani
kuliah di kampus STFT Widya Sasana, MALANG.
Tahun 1997, Kongregasi Pasionis mendapatkan lokasi karya atau teritorial di wilayah
Keuskupan Agung Jakarta, tepatnya di Paroki KAPUK, gereja St. Philipus Rasul. Sebuah
Paroki yang mekar dari Paroki PLUIT, gereja Stela Maris. Adapun imam Pasionis
pertama sebagai Pastor Kepala Paroki adalah Pastor Gabrielle Luigi Antonelli CP.
Terima kasih kepada Bp. Uskup, Mgr. Leo Sukoto, SJ; yang berkenan menawarkan
Kongregasi Pasionis boleh hadir berkarya di Keuskupan Agung Jakarta. Tawaran itu
direalisasikan pada masa Kardinal Julius Darmaatmadja, SJ. Terima kasih diucapkan
kepada Kardinal yang mengijinkan Kongregasi Pasionis berkarya di Paroki Kapuk,
Gereja St. Philipus Rasul.
Informasi:
1. Pusat Pasionis di Indonesia: WISMA PASIONIS Ratu Damai. Jln. Patra Tomang II,
No. 24-A Kelurahan Duri Kepa, Kec. Kebon Jeruk JAKARTA BARAT.
2. Karya Parokial: PAROKI KAPUK, Gereja St. Philipus Rasul. Jln. Teluk Gong Raya, No.
19BC. Kel. Pejagalan, Kec. Penjaringan, JAKARTA UTARA.
3. Nama resminya adalah “Kongregasi Sengsara Yesus Kristus”. Superior Jenderal
bertempat tinggal di Roma (Piazza Ss. Giovanni e Paolo, 13 – 00184 Roma – tel. 06
772711). Keterangan: dekat Colloseum.
Tuhan memberkati kita.
P. Marius Lami, CP
